Archive

Archive for May, 2011

Aneh iya – Lucu mungkin – Sial pasti

Wah, dari judulnya aja. Roman-romannya udah negatif. Biarin.
Dengan hati gondok, saya sang saudara tengah menulis kan sebuah cerita.

Hari ini bangun jam subuh (tumben), gara2 mimpi mengerikan itu, aku dipaksa terbangun dengan keadaan bingung.
Seluruh indera kupaksakan untuk memperjelas  keadaan – bahwa itu semua hanya mimpi semata, dan berusaha fokus di dunia nyata untuk mengidentifikasi dimana diriku berada. Setelah beberapa detik, baru ketahuan klo ternyata aku ada di rumah budheku. Rumah sederhana yang ada di deket kuburan (tinggal nyebrang jalan, loncat kali, mlumpat pager, insya allah udah sampe) membuat suasana tambah ngeri. Syukurlah mamiku nongol di pintu untuk merenggutku paksa. Agar aku di kembalikan ke habitatnya, Solo.
Abis acara mogok di jalan (cuma 100 meter dari start mulai =,=). Akhirnya tibalah daku ke kota tercinta SOLO.
Bangun pagi, ga afdol klo engga mandi pagi (alah, nggaya lu), yah inipun dipaksa buruan ama orang sekitar.
Abis mandi, mo berangkat.

Jeng jeng, dompetku berikut KTP – SIM – KTA PKS – KTP SMP – KTP SMA dan duet noban  ku raib dan dinyatakan positif ilang.
Di mulailah pencarian ini dengan sekuat tenaga, lari keatas, rogoh2 rok, celana, laci, lemari, tas, bantal, guling, kasur (ini beneran) – lalu ganti, lari kebawah grusa-grusu kamar, ruang tamu, kamar mandi, ndapur, mburi, jok motor deelel deesbe. Hasilnya enol, dengan muring2, ampe puncak, akhirnya itu benda kotak warna pink, ditemu juga ma pemilik asline (Adikku). Mana tuh dompet nyelip di tasku lagi (perasaan dah geledah situ tapi nggak ketemu deh).

Berangkat dengan perasaan gondok, aku memulai aktifitasku di sekolahan. (Berhubung dah lulusan, jadi free)
Di sana, aku duduk di bangku taman; yang di suguhi pemandangan hijau rumput nan subur beserta sapinya.
Sapi?? di sekolah? hoo, beneran.. Nih bukan spesies penghasil susu pemamah biak kayak yang ente bayangin nih. Sebenernya ini cuma panggilan guyon aja buat temenku, sebut saja dia bernama acil.
Setelah percakapan panjang nan melelahkan, aku mulai menuntaskan misiku hari ini. Daftar registrasi online (diajari Daphy) sesuai desakan kedua orang tuaku (cat. Hari terakhir registrasi online, besok dah ditutup). Abis itu mulai muter kayak gangsingan, ke TU ngecapke rapor – ke TRRC numpuk rapor – mubeng metu nggoleki konco – berhubung nggak ada yang dimaksud, aku masuk perpus buat berduaan ma HP-ku tercinta. Setelah menghabiskan waktu (penting nggak penting), akhirnya kaki ini melangkah untuk pulang juga. Di jalan, aku di todong dua orang bersimbolkan satu enol, yang memintaku memberikan sesuatu yang disebut makan siang (hauah kesuwen – lebih jelasnya, mereka mo maen ke rumahku). Di tengah perjalanan ke tempat parkir, jari-jariku yang merogohi segala macam saku/kantong yang melekat pada tubuhku ini, tak merasakan adanya getaran sang konci tersayang. Dengan wajah masih cool, aku mencoba mencari-carinya. Dari ngrogohin kantong baju, saku celana, saku jaket kiri, saku jaket kanan, tas, jok (yo ra mungken – hla wong kuncine ae ra ono), sekarang wajah ini terlihat panik. OK, napak tilaspun di mulai dari masuk perpus mbungkuk2, nundhuk2, jengkeng2, jinjit2. Nggak da – lanjut ke TRRC, di sana terpaksa njelasin kedatangan ke guru penunggu ruang TRRC, baru di mulai riwayat penggeledahan. Positif nggak ada, lanjut ruang TU, seperti halnya tadi, tidak sopan jika langsung grusa-grusu, terpaksa penjelasan tadi saya coppy-paste untuk guru penunggu TU. Lagi2 hasilnya sama, kini masuk smansa, dan mulai menelusuri selokan di sana “mungkin aja nyemplung waktu tuh konci baru tak puter2 ato tak uncal2ke” lanjut perjalanan ke depan, nguplek2 tas, ke perpus nyari ulang, ke depan nyamperin dua kawan tadi, ke perpus lagi buat scan ulang tuh kejadian perkara. And finally curhat ma pak bon si Pur.
Usul2 aneh nan manjurnya aku jalanin, maen ke pos satpam. Liat kalo-kalo di dalem ada kunci motorku yang di temu pak satpam.

Eh, beneran ada. Badala, diriku es mubeng2 koyo gasingan, tuh anak konci malah enak-enakan ngejogrok di pos satpam dengan antengnya, sambil memandang keluar menerawang kaca, ngeliatin si empunya jungkir-balik buat nemu dia.
Benda mungil yang telah di ketemukan keberadaannya, kini menjadi momok penting yang di bicarakan oleh agen 101 dengan si Pur. Mari kita lihat ikhtiar2 macam mana saja, demi keluarnya sang anak konci.
Ikhtiar pertama: ide si Pur, by 1v, nelpon sang Pemegang Kunci pos “pak Satpam”. Hasilnya, tuh satpam datengnya sejaman lagi eh, satu jam lagi.
Ikhtiar kedua: by si Pur, buat genter yang bisa nggaet sang anak konci. Hasilnya gatot, gagal total.
Ikthiar ketiga: by agen 101, buat sesuatu yang memerlukan pemikiran tinggi, yang hanya bisa di temukan oleh agen 101. Benda yang mudah dibuat, dibawa, dilipat, dibuang, praktis, dan sangat tidak mudah dipakai
Benda itu adalah “Kail langka agen 101″ #bc. dengan gaya doraemon.
Bahan: 2 rafia ukuran satu jengkal, dan tusuk konde, pemberat (batu plus plastik pembungkus)
Cara Pembuatan: robek rafia sesuai keperluan, sambungkan satu sama lain, terakhir kaitan tusuk konde yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa tersambung dengan rafia dan pemberat secara stabil.
Cara Pakai: gunakan, selayaknya kail pancing.
Hasil: GATOT lagi 
Ikhtiar keempat: by si Pur, buat genter yang lebih ajaib. Dengan perjuangan keras, sampai tangannya ke jepit kesana – kejepit ke sini. Akhirnya, genter yang satu ini membuahkan hasil. Setelah berhasil menggaet sang konci untuk pulang. Si Pur kehilangan kekuatan untuk merengkuhnya. Kami hanya terpaku, berharap sambil berdoa dan juga dorongan semangat melewati kaca-udara-kaca. Akhirnya sang anak konci pun luluh, dan tunduk. Dia berhasil dipertemukan kembali dengan sang induk semangnya. Lalu mereka kini hidup (insya allah) bahagia, selama-lamanya.

The End…

Ah, nggak seru ah….
Ni cerita jelek, aku ngerasa dejavu nulis ini.
Masak tadi enak2 curhat nulis di facebook, eh tiba2 ilang deh file-nya. Sumpah ra lucu tenan og kae.
Au ah, gelap, aku jek mutung…

Oh ya catatan buat mbak ina, don’t forget three digit number to connect you to Afiah and Ayu,
hachi sichi yon.
OKE…

FIN.

Categories: Iseng-Iseng Nulis
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.